Fisikawan-fisikawan lokal yang membanggakan Indonesia
Prof. Yohanes Surya
Siapa sih yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini??
Prestasi internasional Yohanes Surya dalam mengantarkan anak-anak Indonesia memperoleh penghargaan bergengsi di berbagai ajang olimpiade tak perlu diragukan lagi. Warga keturunan Tionghoa kelahiran Jakarta 6 November 1963 itu memiliki sederet prestasi yang membuat Indonesia diperhitungkan di kancah internasional.
Betapa tidak, dia berhasil mengantarkan anak-anak Indonesia menyabet berbagai medali. Contohnya, saat Indonesia berhasil meraih peringkat 1 International Physics Olympiad (IPhO) pada 2006 di Singapura untuk pertama kali. Prestasi itu kemudian berlanjut dengan berhasilnya dia membawa Indonesia meraih gelar juara dunia dengan memborong enam medali emas pada kejuaraan ICYF. Tahun lalu, Indonesia kembali juara dunia di Global Enterprise Challenge di Skotlandia. Itu hanya segelintir torehan prestasi Yohanes dalam mengantarkan anak bangsa menuju prestasi terbaik.
Sentuhan dingin Yohannes dalam mengantarkan siswa Indonesia meraih juara dunia bermula ketika dia mengambil studi master dan doktornya di College of William and Mary Virginia, Amerika Serikat. Dari awal, sejak dia mendapat kesempatan belajar di negeri Paman Sam, Yohanes berjanji bakalan pulang ke Indonesia dan ingin membawa perubahan. “Saya ingin melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Itu janji saya waktu meninggalkan Indonesia,” ujarnya.
Keindonesiaan Yohanes semakin teguh ketika dia tinggal dan bekerja di Amerika. Dia ingin kembali pulang dan mengibarkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika. Cibiran dan senyum sinis pernah dia dapati dari rekan- rekannya terkait mimpinya itu. Maka, pulanglah Yohannes ke Indonesia untuk membuktikan mimpi besarnya itu. “Saya hanya berpikir, anak Indonesia tak kalah dengan bangsa manapun,” ucapnya yakin.
Selain cerdas, tekun dan ulet ternyata beliau adalah orang yang sangat low profile. ketika saya bertemu dengan beliau, karena kebetulan diminta membantu Asian Science Camp 2008 di Bali, beliau sangat dekat dengan siapapun. Tidak membatasi hanya pada ilmuwan besar saja.
Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008).
Di dunia akademisi Internasional, Dr. Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hinga perut bumi.
Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi temuannya telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antarikas Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang-alik selama misi ke antariksa.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh American Chemistry Society, teknologi temuan Dr. Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi berbagai bidang dari energi, proses kimia , kedokteran hingga nano teknologi.
Saat ini Dr. Warsito telah membangun pusat riset dan produksi system tomografi 4D yang pertama didunia yang berpusat di Tangerang, banten. Produk institusinya 100% diproduksi didalam negeri dengan melibatkan ilmuwan lokal dan telah mulai di pasarkan di Amerika Serikat.
Serangkaian penghargaan pun telah diraihnya. Pada tahun 1985, Warsito sempat meraih Baiquni Award bidang sains dan matematika dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Tahun 2002 ia dianugerahi American Institute of Chemist Foundation Outstanding Post-doctoral Award. Ia juga menjadi lulusan terbaik bidang kimia di Universitas Shizouka. Berkat segudang prestasinya itu, Warsito termasuk ke dalam 16 ilmuwan Indonesia yang diberi kesempatan unjuk gigi di depan Douglas D Osheroff, peraih Nobel Fisika 1996 yang ketika itu berkunjung ke Indonesia. Bahkan beberapa kalangan ilmuwan dunia menyatakan bahwa untuk teknologi temuannya yang menggemparkan itu sudah sepantasnya beliau meraih nobel.
Dr. Ratno Nuryadi
Prihatin atas kondisi itu, Ratno yang memenangkan penghargaan PPMI dengan makalah berjudul “Manufactur Atomic Force Microscope (AFM) dan Aplikasinya pada Nanoteknologi” itu kemudian menciptakan mikroskop material renik yang disebut AFM (Atomic Force Microscope).
Ini adalah mikroskop nano pertama yang diciptakan di Indonesia dengan modal sekitar Rp50 juta saja dan dibuat dengan bahan-bahan sederhana.
Mikroskop nano itu, bukan mikroskop biasa, karena menggunakan teknologi peraba materi seperti jarum yang akan menyusuri struktur materi dan kemudian menampilkan strukturnya di layar komputer dengan menggunakan software tertentu.
Karena prestasinya itu Dr.
Ranto Nuryadi menerima penghargaan khusus dalam Bakrie Award.
Ayo..!!! siapa yang mau mengikuti jejak mereka........??
semangat juara IPhO!
BalasHapussemangat!!!!
BalasHapuswiiii
BalasHapuskereenn
yup mereka semua keren abiss
BalasHapus